ZUHUD DAN GAYA HIDUP BERKELANJUTAN MENURUT TINJAUAN SUFISTIK DAN PSIKOLOGI ISLAM
Abstract
Zuhud is not merely understood as physical detachment from worldly possessions but rather as an inner release from excessive dependence on material pleasures. In the context of modern life, which is dominated by materialism and consumerism, zuhud provides an alternative conscious lifestyle that balances worldly needs with ultimate spiritual goals. This article aims to examine the concept of zuhud within classical Sufi traditions and to explore its relevance to sustainable living in contemporary society. The study employs a library research method with Sufi and Islamic psychological (nafsiyological) approaches. The findings reveal that zuhud encompasses significant spiritual, psychological, and social dimensions. Spiritually, zuhud fosters transcendental awareness; psychologically, it contributes to self-control and mental well-being; and socially, it promotes simplicity, solidarity, and sustainability in resource utilization. Thus, zuhud can be recontextualized as an ethical and spiritual framework to address the value crisis, psychological pressures, and ecological challenges of modern society.
ABSTRAK
Zuhud tidak sekadar dimaknai sebagai sikap menjauhi dunia secara fisik, tetapi lebih pada pelepasan ketergantungan batin terhadap kenikmatan materi yang berlebihan. Dalam konteks kehidupan modern yang sarat dengan materialisme dan konsumerisme, nilai-nilai zuhud menghadirkan alternatif gaya hidup berkesadaran yang mampu menyeimbangkan kebutuhan duniawi dan ukhrawi. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep zuhud dalam tradisi tasawuf klasik serta mengeksplorasi relevansinya terhadap gaya hidup berkelanjutan di era kontemporer. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan sufistik dan psikologi Islam (nafsiyologis). Hasil kajian menunjukkan bahwa zuhud memiliki dimensi spiritual, psikologis, dan sosial yang signifikan. Pada dimensi spiritual, zuhud menumbuhkan kesadaran transendental; pada dimensi psikologis, ia berkontribusi dalam pengendalian nafsu serta kesehatan mental; dan pada dimensi sosial, ia mendorong pola hidup sederhana, solidaritas, serta keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya. Dengan demikian, zuhud dapat direkontekstualisasikan sebagai kerangka etis dan spiritual untuk menghadapi krisis nilai, tekanan psikologis, dan tantangan ekologis masyarakat modern.Keywords
Full Text:
PDFReferences
Al-Ghazali. (2020). Ihya’ Ulumuddin (Terj.). Jakarta, Indonesia: Turos.
Al-Muhasibi. (2021). Al-Ri’ayah li Huquq Allah. Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Amin, H. (2023). Psikologi spiritual dalam Islam: Teori dan aplikasi. Jakarta, Indonesia: Kencana.
Bagir, H. (2018). Islam Tuhan Islam manusia: Agama dan spiritualitas di zaman kacau. Bandung, Indonesia: Mizan.
Hanafi, M. M. (2019). Spiritualitas Qur’ani: Dari tafsir menuju aksi sosial. Jakarta, Indonesia: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an – Kemenag RI.
Hidayat, K. (2010). Psikologi kematian: Memahami hakikat hidup dan mati. Jakarta, Indonesia: Gramedia Pustaka Utama.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (2022). Madarij al-Salikin. Kairo, Mesir: Dar al-Hadith.
Irawan, B. (2022). Islamic boarding schools (pesantren), Sufism and environmental conservation practices in Indonesia. HTS Teologiese Studies / Theological Studies, 78(4), 1–10. https://doi.org/10.4102/HTS.V78I4.7073
Muhammad, F., Munandar, S. A., & Zuhud. (2024). Zuhud in modern Sufism: Bridging spirituality and economic life. Religia: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 27(2), 1–15.
Nasr, S. H. (2021). The garden of truth: The vision and promise of Sufism, Islam's mystical tradition. New York, NY: HarperOne.
Nasruddin Anshoriy, Ch. (2006). Tasawuf untuk kehidupan modern. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar.
Nur, A. B., Alimuddin, N., Nagu, N., & Madein, A. (2024). Dekonstruksi konsep aset berbasis jalan zuhud: Suatu perlawanan terhadap materialisme. Jurnal Aktifa: Riset Akuntansi dan Keuangan, 6(3), 200–215.
Rizky, A., Hanum, L., & Fadli, R. (2022). Spiritual coping based on zuhd: A study on mental health in Islamic psychology. Journal of Islamic Psychology, 5(2), 103–120.
Rosyada, D. (2021). Pendidikan Islam dan karakter bangsa: Menanamkan nilai-nilai sufistik dalam sistem pendidikan nasional. Jakarta, Indonesia: UIN Press.
Sadikova, R. I. (2022). Concept of zuhd (asceticism) in Islam. International Journal of Health Sciences, 6(S3), 150–160.
Syamsuddin, A. (2020). Tasawuf dan kesehatan mental: Integrasi spiritualitas dalam psikoterapi Islam. Bandung, Indonesia: Pustaka Setia.
Vahid, M., & Cheraghi, M. (2022). ‘Al? bin al-?usayn’s view on asceticism: Analysis and review with a mystical approach. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 12(1), 45–60.
Yusuf, M. (2023). Nafsiologi Islam: Konsep diri dan terapi jiwa dalam perspektif sufistik. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar.
DOI: https://doi.org/10.59818/jpi.v5i5.1956
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
.png)








