Penerapan Kriteria Desa Wisata pada Desa Wisata Batulayang, Bogor, Jawa Barat

Asep Bahri - Universitas Agung Podomoro, Jakarta
Anwar Basalamah - Universitas Agung Podomoro, Jakarta
Fitri Abdillah A - Universitas Agung Podomoro, Jakarta
Timotius Rahmat - Universitas Agung Podomoro, Jakarta

Abstract


The reasons why people travel have changed in recent years, and now alternative tourism and tourist villages are preferred over mass tourism. The concept of this tourist village emerged in Indonesia and presents interesting tourist offerings, one of which is the Batulayang tourism village in Bogor, West Java. The goal of this study is to examine the implementation of criteria in the Batulayang tourism village in Bogor, West Java, as well as the classification of the tourist village there. Purposive sampling was used in conjunction with descriptive methodology as the research design for this study. The data was collected from respondents, all of whom were tourists at Batulayang tourism village. Descriptive analysis was used to examine the information using frequency tabulation and scatter. The findings of this study show that, in accordance with recommendations from the Ministry of Tourism, Batulayang has largely implemented the requirements for a tourist village.

ABSTRAK

Alasan wisatawan bepergian telah berubah dalam beberapa tahun terakhir, dan sekarang pariwisata alternatif seperti desa wisata lebih disukai daripada pariwisata massal. Konsep desa wisata ini bermuncul di tanah air dan menghadirkan sajian wisata yang menarik, salah satunya desa wisata Batulayang di Bogor, Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan kriteria di desa wisata Batulayang Bogor, Jawa Barat, serta menganalsisa klasifikasi desa wisata tersebut. Purposive sampling digunakan bersama dengan metodologi kualitatif dengan pendekatan deskriptif sebagai desain penelitian ini. Data dikumpulkan dari responden yang merupakan pengunjung di Desa Wisata Batulayang. Analisis deskriptif digunakan untuk menguji informasi menggunakan tabulasi frekuensi dan pencar. Temuan studi ini menunjukkan bahwa sesuai dengan rekomendasi dari Kementerian Pariwisata, Batulayang sebagian besar telah menerapkan persyaratan desa wisata.


Keywords


Tourism, Tourism Village, Criteria of Tourism Village, Batulayang Village Bogor, West Java / Pariwisata, Desa Wisata, Kriteria Desa Wisata, Desa Batulayang Bogor, Jawa Barat

Full Text:

PDF

References


Azahari, A. (2020). Peta paparan profesi sektor pariwisata. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Bahri, A. S., Rianto, Fitri, A., & Palupi, S. (2020). Desa wisata dan wisata: Teori dan praktek. PT. Qiara Media.

Kemenko Kemaritiman dan Investasi. (2021). Pedoman desa wisata. Kemenkomaves Republik Indonesia.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. (2019). Pedoman lomba wisata desa. Bogor, Jawa Barat.

Kementerian Desa. (2018). Statistik potensi desa. Kementerian Desa, Desa Tertinggal dan Transmigrasi.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2020). Pedoman pendampingan desa wisata. Kemenparektraf.

Komariah, N., Saepudin, E., & Yusup, P. M. (2018). Pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. Jurnal Pariwisata Pesona, 3(2), 158-174. https://doi.org/10.26905/jpp.v3i2.2340

Sugiyono. (2013). Metodologi penelitian manajemen. PT. Alfabet.

Stephen, I., Ishak, & William B., M. (1981). Buku saku riset dan evaluasi (Edisi ke-2). Penerbit Edit.

Suweta, I. K., & Wiyatmaja, I. G. N. (2017). Pengetahuan dasar ilmu pariwisata. Perpustakaan Laras.

Suranny, L. E. (2021). Pengembangan potensi desa wisata dalam rangka peningkatan ekonomi perdesaan di Kabupaten Wonogiri. Jurnal Litbang Sukowati, 5(1), 49-62. https://doi.org/10.32630/sukowati.v5i1.212

Sutaguna, I. N. T. (2017). Pengembangan pengolahan tape sebagai daya tarik wisata kuliner di desa wisata Bongkasa Pertiwi Abiansemal Badung. Jurnal Analisis Pariwisata, 17(1). https://erepo.unud.ac.id

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan.

UNWTO. (2016). Global report on the transformative power of tourism: A paradigm shift towards a more responsible travel.




DOI: https://doi.org/10.59818/kontan.v2i1.428