HAK ASASI BERAGAMA PERSPEKTIF FILSAFAT ONTOLOGI PANCASILA DALAM KERANGKA NEGARA HUKUM
Abstract
ABSTRACT
Indonesia is a nation rich in ethnic, cultural, and religious diversity that has coexisted since the Nusantara era. Following independence, religious values were officially accommodated by the country's founders, who affirmed that Indonesia is a religious nation, although it is not a religious state. As a state governed by law (negara hukum) as regulated in Article 1 Paragraph (3) of the 1945 Constitution, Indonesia is obligated to provide legal protection for human rights, including the right to freedom of religion and worship. In reality, however, social friction resulting from differences in beliefs and past human rights violations involving state apparatus still pose challenges to national life. This study aims to examine the alignment of the principles of the human right to religion from the perspective of the ontological philosophy of Pancasila within the framework of the Indonesian legal state. The research method employed is a normative (doctrinal) legal research method with a descriptive-analytical nature. Legal materials were collected through library research and internet-based legal document searches. The analysis was conducted descriptively, qualitatively, and normatively using deductive reasoning, along with a statute approach and a conceptual approach. The results indicate that ontologically, the fundamental essence of Pancasila is the human being as the primary legal subject, characterized by a monopluralis nature (possessing a balanced structure, nature, and status of existence as an individual, social being, and creation of God). As the staatsfundamentalnorm (fundamental norm of the state), Pancasila serves as the primary source of validity and the direction for formulating national laws, giving rise to the concept of the "Pancasila Legal State". This concept integrates legal certainty with religious and humanitarian values. In the perspective of Pancasila ontology, freedom of religion is an inherent and sacred right (sacred rights) derived directly from God Almighty, rather than a mere political compromise. Nonetheless, this freedom is not absolute, as it is limited by the obligation to respect the beliefs of others to maintain social unity. The Pancasila legal state is mandated to actively provide statutory instruments to guarantee security in worship while anticipating state institutional policies that potentially undermine these spiritual rights.
ABSTRAK
Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama yang telah berkembang secara harmonis sejak masa Nusantara. Setelah kemerdekaan, para pendiri bangsa menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai bagian integral dalam kehidupan bernegara, sehingga Indonesia ditegaskan sebagai negara yang berlandaskan nilai religius tanpa menganut bentuk negara agama. Sebagai negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin perlindungan hak asasi manusia, termasuk hak atas kebebasan memeluk agama dan menjalankan ibadah. Meskipun demikian, praktik kehidupan berbangsa masih dihadapkan pada berbagai persoalan, seperti konflik sosial yang dipicu oleh perbedaan keyakinan serta berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang berkaitan dengan kebebasan beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian prinsip kebebasan beragama berdasarkan perspektif ontologi Pancasila dalam kerangka negara hukum Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan karakter deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan penelusuran berbagai bahan hukum primer, sekunder, serta dokumen hukum yang relevan. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan normatif melalui penalaran deduktif, menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis Pancasila menempatkan manusia sebagai hakikat pokok yang bersifat monopluralis, yaitu memiliki dimensi individu, sosial, dan religius yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai staatsfundamentalnorm, Pancasila menjadi landasan filosofis sekaligus sumber legitimasi bagi pembentukan sistem hukum nasional yang melahirkan konsep Negara Hukum Pancasila. Konsep tersebut mengintegrasikan prinsip kepastian hukum dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Dalam perspektif ontologi Pancasila, kebebasan beragama merupakan hak kodrati yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa sehingga memiliki sifat fundamental dan sakral. Namun, pelaksanaan hak tersebut harus disertai tanggung jawab untuk menghormati hak dan keyakinan pihak lain guna menjaga ketertiban, kerukunan, dan persatuan bangsa. Oleh karena itu, Negara Hukum Pancasila berkewajiban membangun sistem hukum yang mampu menjamin perlindungan terhadap kebebasan beragama, memberikan rasa aman dalam menjalankan ibadah, serta mencegah lahirnya kebijakan negara yang berpotensi membatasi atau melanggar hak-hak spiritual warga negara.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Albadri, P. B., Ramadani, R., Amanda, R., Nurisa, N., Safika, R., & Harahap, S. S. (2023). Ontologi Filsafat. PRIMER : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(3), 311–317.
Asshiddiqie, J. (2010). Konstitusi dan konstitusionalisme Indonesia. Sinar Grafika.
Asshiddiqie, J., & Safaat, A. (2012). Teori Hans Kelsen tentang hukum. Konstitusi Press.
Attamimi, A. H. S. (1990). Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam penyelenggaraan pemerintahan negara [Disertasi doktoral, Universitas Indonesia]. Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Bakry, N. (1994). Orientasi filsafat Pancasila. Liberty.
Bielefeldt, H., & Scharffs, B. G. (2025). The Future of Religious Freedom: Rights, Recognition, and Pluralism. The Future of Religious Freedom
Breskaya, O., Giordan, G., & Richardson, J. T. (2025). Urban Governance of Interreligious Dialogue and Freedom of/from Religion. Religions, 16(8), 952
Budiardjo, M. (2008). Dasar-dasar ilmu politik. Gramedia Pustaka Utama.
Ceswara, D. F., & Wiyatno, P. (2018). Implementasi nilai hak asasi manusia dalam sila Pancasila. Lex Scientia Law Review, 2(2), 227–240.
Charda, U. (2020). Pendidikan Pancasila untuk perguruan tinggi. RajaGrafindo Persada.
Darmodiharjo, D., & Shidarta. (2006). Pokok-pokok filsafat hukum: Apa dan bagaimana filsafat hukum Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Dicey, A. V. (1959). Introduction to the study of the law of the constitution (ed. ke-10). Macmillan.
Efendi, J., & Ibrahim, J. (2016). Metode penelitian hukum normatif dan empiris. Prenadamedia Group.
Ganeswara, I. (2007). Filsafat Pancasila: Suatu pengantar. Pustaka Pelajar.
Hadjon, P. M. (1987). Perlindungan hukum bagi rakyat di Indonesia. Bina Ilmu.
Ibrahim, J. (2008). Teori dan metodologi penelitian hukum normatif (Cet. 4). Bayumedia Publishing.
Kaelan. (2016). Pendidikan Pancasila (Ed. Rev.). Paradigma.
Kaelan. (2018). Negara kebangsaan Pancasila (kultur, historis, filosofis, yuridis, dan aktualisasinya). Paradigma.
Kelsen, H. (1967). Pure theory of law (ed. ke-2). University of California Press.
Krisnayuda, B. (2017). Pancasila dan undang-undang, relasi dan transformasi keduanya dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Kencana.
Kusumohamidjojo, B. (2023). Epistemologi dan Filsafat Ilmu: Suatu Pengantar. Yrama Widya.
Mahfud MD. (2010). Membangun politik hukum, menegakkan konstitusi. Rajawali Pers.
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Manese, R. (2025). Freedom of Religion or Belief as a Public Virtue in Diversity. Proceeding International Conference on Education, Peace, and Social Justice
Marzuki, P. M. (2021). Penelitian hukum (Edisi Revisi, Cet. 16). Prenadamedia Group.
Möhö, H., Harefa, A., & Zai, E. P. (2022). Pancasila sebagai staatn fundamental norm dalam rangka pengembangan sistem hukum nasional. MathEdu (Mathematic Education Journal), 5(3), 200–210. (Catatan: Halaman disesuaikan ke format standar jurnal jika ada).
Nawiasky, H. (1965). Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe. Benziger.
Notonagoro. (1995). Pancasila: Dasar falsafah negara. Pantjuran Tujuh.
Nowak, M. (2005). U.N. Covenant on Civil and Political Rights: CCPR commentary (ed. ke-2). N.P. Engel.
Ridwan HR. (2003). Hukum administrasi negara. UII Press.
Setiawan, E. B., Putra, M. F., & Putri, M. N. (2023). Hukum Hak Asasi Manusia. ResearchGate.
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat (Cet. 17). Rajawali Pers.
Sudjito, S., & Taurasi, M. (2023). The Ontological Stratification of Reality in the Pancasila Paradigm. Religions, 14(10), 1125–1140
Suharyanto, A. (2024). Studi Kritis atas Pemikiran Notonagoro tentang Pancasila sebagai Dasar Negara. Populis: Jurnal Sosial dan Humaniora, 9(1), 45–58
Tanya, L. B., Parera, T. Y., & Lena, S. F. (2015). Pancasila bingkai hukum Indonesia. Genta Publishing.
Taufik, Z., Sulistyati, M., & Fitrawati, F. (2026). Young women's interfaith feminist peacebuilding and grassroots democracy in West Sumatra. Asian Journal of Women's Studies, 32(1), 45-62.
Tim Dosen Pancasila. (2023). E-Book Pancasila: Landasan Filsafat dan Implementasi Bernegara. ITPLN Press.
Tutik, T. T. (2010). Konstruksi hukum tata negara Indonesia pasca amendemen UUD 1945. Prenada Media Group.
United Nations. (1966). International Covenant on Civil and Political Rights.
Utrecht, E. (1962). Pengantar dalam hukum Indonesia. Ichtiar.
Zubair, A. C. (1981). Pengantar kepada konsep manusia Indonesia seutuhnya in memoriam Prof. Drs. Mr. Notonagoro. Dalam Pengantar ke alam pemikiran kefilsafatan Prof. Dr. Drs. Mr. Notonagoro. Yayasan Pembina Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada.
Peraturan Perundang-undagan:
UUD 1945 dan Konstitusi Indonesia (UUD 1945 Perubahan I, II, III, IV, UUD 1945 Setelah Perubahan I, II, III, IV, Konstitusi Republik Indonesia Serikat, Undang-Undang Dasar Sementara 1950, Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2020.
Undang-undasng Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
DOI: https://doi.org/10.59818/jps.v5i2.3122
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2026 dede yuda wahyu Nurhuda

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
.png)


